Kamis, 26 Maret 2015

Pengertian Kepariwisataan (What's Tourism?) + Rekomendasi Tempat Destinasi Indonesia

PENGERTIAN KEPARIWISATAAN


Salah satu istilah yang digunakan secara “resmi” sebagai nama sebuah kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berwenang menangani “kebudayaan” dan “kepariwisataan“, tidak menggunakan istilah “kepariwisataan” melainkan “pariwisata“, berbeda halnya dengan istilah “kebudayaan” yang digunakannya secara berdampingan.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.
  • WISATA        : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu;
  • WISATAWAN    : adalah orang yang melakukan wisata;
  • PARIWISATA    : adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah;
  • KEPARIWISATAAN    : adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.
Definisi yang ditentukan dalam UU no.10/2009 tersebut merupakan salah satu definisi di antara sekian banyak definisi yang kita kenal selama ini. Definisi ini dimaksudkan sebagai acuan dalam upaya pengembangan kepariwisataan Indonesia. Tidak berlaku universal.
Diperkenalkannya istilah ‘pariwisata’ dimaksudkan sebagai pengganti ‘tourisme’ (Belanda, Perancis) atau ‘tourism’ (Inggris).

Bila diuraikan menurut arti-katanya, maka ‘pariwisata’ yang berasalkan kata ‘pari’ dan ‘wisata’ dari bahasa Sansekerta, akan berarti sebagai berikut:
Pari: seringkali, berulangkali/berkali-kali; dapat juga berarti ‘umum’ (bandingkan dengan: sidang ‘paripurna’ = sidang umum & lengkap, – umum masalahnya yang dibicarakan dan lengkap anggotanya yang hadir -, bermakna sama dengan “sidang pleno, plenary session/meeting”);
Pariwisata: beberapa perjalanan yang dilakukan secara bersambung/ berantai dari satu tempat ke tempat berikutnya dan diakhiri di tempat keberangkatan (=tour, perjalanan keliling);

Kata ‘pariwisata’ telah berhasil dipopulerkan, pada mulanya diperkenalkan oleh Menteri PDPTP (Perhubungan, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata), pada waktu ituLet.Jen. Djatikusumo, dalam kesempatan Musyawarah Nasional Tourisme II di Tretes, Jawa Timur, pada tahun 1958.
Wisata: pergi (to go, kata kerja), bepergian (to travel, kata kerja); dapat juga berarti ‘perjalanan’ (travel, kata benda);
Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
 So, these are some cool destination you might wanna go to 
1. Gili Trawangan, Bali.

Gili Trawangan merupakan pulau terbesar diantara ketiga pulu Gili yang terletak di sebelah barat Laut Lombok. Pulau Gili Trawangan juga memiliki ketinggian cukup signifikan jika dibanding dua pulau gili lainnya. Pulau gili merupakan deretan pulau-pulau sangat kecil, dimana Gili Trawangan sebagai pulau terbesar hanya memiliki panjang sekitar 3 kilometer dan lebar 2 kilometer. Pulau tersebut dihuni oleh sekitar 800 jiwa, dimana bagian paling padat terdapat pada bagian timur pulau. Dibanding dua pulau gili lainnya, Gili Trawangan juga memiliki fasilitas pariwisata yang lebih lengkap dan beragam.
Gili Trawangan merupakan tempat wisata yang memiliki nuansa pesta lebih kental dibanding dua pulau gili lain, Gili Meno dan Gili Air. Hampir sepanjang malam selalu diadakan acara-acara pesta yang dirotasi di beberapa tempat keramaian. Wilayah perairannya memiliki panorama laut cukup memukau, sehingga menjadi salah satu tempat dengan potensi wisata bahari yang cukup besar. Beberapa aktivitas wisata yang cukup populer di pulau ini adalah scuba diving, snorkeling, bermain kayak, berselancar, hingga berkuda mengelilingi pulau sambil menikmati suasana yang masih cukup alami.
Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik di kawasan Gili Trawangan adalah tidak terdapatnya kendaraan bermotor. Peraturan lokal yang melarang kendaraan bermotor masuk ke daerah ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Di era yang serba modern saat ini, masih ada daerah yang tidak memperbolehkan teknologi transportasi darat ini masuk. Tak mengherankan, jika kawasan ini masih sangat asri, jauh dari polusi kendaraan bermotor, sehingga memberikan suasana nyaman dan segar.
Sarana transportasi darat di kawasan ini masih sangat sederhana, umumnya masyarakat menggunakan sepeda atau cidomo (kereta kuda sederhana). Jika wisatawan ingin berkeliling di pulau ini, dapat menggunakan sepeda yang banyak disewakan oleh warga setempat. Sedangkan sarana transportasi antar pulau Gili biasanya menggunakan kapal bermotor atau speedboat.
Selain potensi dan daya tarik di atas, pantai di Pulau Gili Trawangan juga memiliki kelebihan dibanding pantai-pantai wisata lain, yaitu pengunjung dapat menikmati sunset dan sunrise tanpa harus berpindah tempat ke pantai lain. Saat pagi hari, wisatawan dapat menikmati pesona sunrise yang sangat indah dengan semburat sinarnya yang memancar ke langit. Sedangkan sore harinya, wisatawan dapat menikmati keindahan sunset yang sangat agung, dengan kemilau warna emasnya menghiasi langit yang perlahan mulai gelap. Di tempat wisata ini, wisatawan juga dapat menonton pertunjukan bela diri tradisional, presean, yang juga dikenal dengan nama stick fighting. Pertunjukan ini biasanya dapat ditemukan di sekitar pasar seni Gili Trawangan.
2.Janjang Saribu, Bukittinggi, Sumatra Barat



Wisata Janjang Saribu (Jenjang Seribu) yang ada di Bukittinggi. Tempat wisata baru di Ngarai Sianok yang diresmikan di tahun 2013 ini memang mirip sekali dengan Tembok Raksasa Cina, terdiri dari jalan setapak membelah tebing-tebing dan pemandangan di sekeliling yang nggak mudah dilupakan karena sangat menawan hati. Berjalan di Janjang Saribu kamu dapat melihat monyet-monyet bergelantungan dan melompat dari pohon ke pohon, atau kicauan beberapa jenis burung yang udah langka. Udaranya masih bersih dan segar, jauh dari polusi khas kota besar.
Janjang Saribu dulunya adalah semacam jalan setapak yang dipakai masyarakat sekitar untuk mengambil air, dan jalannya pun masih berupa jalan tanah tanpa pagar di kanan kirinya. Sekarang Janjang Saribu udah dilengkapi dengan camping ground, kolam pancing dan beberapa fasilitas lain untuk menambah kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati indahnya Gunung Marapi dan Singgalang di kejauhan.
Daya Tarik Janjang Saribu Bukittinggi

Dalam menikmati kunjungan ke janjang saribu bukittinggi, tentu saja harus mengetahui terlebih dahulu tentang deskripsi dari tempat wisata ini. Wisatawan biasanya ingin merasakan sebuah sensasi berkunjung ke Tembok Besar Cina, namun dengan versi kota Bukittinggi. Bila dilihat secara sepintas, tentu saja ada banyak deretan anak tangga yang cukup panjang pada kawasan atau daerah Koto Gadang. Panjang dari anak tangga tersebut mencapai atau membentang ke kawasan bawah Ngarai Sianok. Jalan anak tangga tersebut diberi nama Janjang Saribu, atau yang berarti tangga seribu. Faktanya, panjang dari janjang ini adalah 780 meter, dari ujung ke ujung. Dulunya tempat ini dianggap remeh oleh orang. Akan tetapi setelah dilakukan renovasi sana-sini, bangunan menjadi terlihat baru dan lebih menarik. Dengan demikian, semakin banyak saja sekarang ini orang yang memanfaatkan kawasan wisata tersebut untuk berlibur, atau bahkan sekedar berfoto-foto saja. Sedangkan untuk lebar dari janjang saribu itu sendiri adalah 2 meter.
3.Kota Tua, Jakarta
 
Kota Tua adalah salah satu kawasan di Jakarta, tepatnya di Jakarta Kota yang menjadi sebuah destinasi wisata sejarah terkenal di ibu kota. Wisata Kota Tua ini dapat memberikan Anda berbagai nilai sejarah serta cerita di balik berdiri megahnya ibu kota Indonesia ini sekarang. Selain itu, Kota Tua juga bisa menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto atau hunting foto, karena nuansa vintage atau kuno zaman Belanda yang ada di sana. Tak heran jika Kota Tua sering dijadikan latar belakang untuk photo session, pre wedding atau foto buku tahunan. Kawasan yang berdiri di atas lahan seluas 139 hektar ini didominasi oleh berbagai bangunan dengan arsitektur Eropa serta China yang berasal dari abad ke-17 hingga abad ke-20. Di sini, Anda bisa mengagumi karya arsitektur bangunan-bangunan kolonial Belanda yang masih berdiri gagah hingga sekarang.

Awal cerita dari Kota Tua adalah sebuah kawasan yang didirikan oleh kolonial Belanda dengan nama Kota Batavia. Kota Batavia ini berdiri di atas wilayah yang bernama Jayakarta (kini Jakarta) dari tahun 1527 hingga tahun 1619. Kota ini kemudian menjadi pilihan kolonial Belanda karena letaknya dekat dengat pelabuhan Kesultanan Banten yang diberi nama pelabuhan Sunda Kalapa. Kota Batavia ini kemudian dijuluki sebagai “The Pearl of East” atau yang memiliki arti “Mutiara dari Timur” oleh James Cook, seorang penjelajah terkenal dari Inggris. Ia terpesona dengan pemandangan kota yang memiliki bangunan serta tata ruang kota yang indah menyerupai kota Amsterdam di Belanda. Dan memang benar, kolonial Belanda dulunya merencanakan Kota Batavia sebagai salinan dari ibu kota Belanda tersebut.

Jayakarta yang kemudian diserang oleh VOC Belanda pada tahun 1620, diubah namanya menjadi Batavia dan ditetapkan pusat kotanya di kawasan Kota Tua ini. Dari sanalah dulunya VOC mengendalikan semua kegiatan, seperti kegiatan politik, militer serta perdagangan. Areal kota Batavia juga diperluas mencapai 846 hektar dari 139 hektar. Areal kota Batavia ini mencakup Pelabuhan Sunda Kelapa, Pecinan Glodok dan Pasar Ikan, namun pusat kota sendiri masih berada di kawasan bangunan Balaikota dan Museum Fatahillah. Barulah setelah Jepang datang dan menaklukkan Indonesia, nama Batavia diubah menjadi kota Jakarta hingga kini.

Di sini, Anda dapat mempelajari sejarah berdirinya kota Jakarta yang dulunya berangkat dari Kota Tua yang sekarang. Untuk menikmati wisata Kota Tua, Anda bisa berjalan kaki mengelilingi kawasannya. Jika lelah, Anda juga bisa menyewa sepeda tua yang tersedia di sini agar perjalanan wisata menjadi lebih seru. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan keindahan bangunan-bangunan berarsitektur tempo dulu di sini, ya! Di kawasan Kota Tua, terdapat enam lokasi penuh nilai sejarah yang wajib Anda sambangi. Di antaranya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa, tiga bangunan utama di Kota Tua yaitu Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Museum Wayang, dan dua bangunan lain yaitu Museum Mandiri serta Stasiun Kereta Api Kota.


Source: 
http://caretourism.wordpress.com/2010/08/12/pengertian-dasar-kepariwisataan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata
http://960606net.blogspot.com/2015/03/pengertian-kepariwisataan.html?m=1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar