Sabtu, 25 Juli 2015
Wisata Kota Tua-Museum Wayang
Another assignment purpose. Explaining about Old City in West Jakarta and one of the museums in it, Wayang Museum
Selasa, 28 April 2015
Kepariwisataan - Kelebihan dan Kekurangan Tempat Wisata: Pantai Pasir Putih
Pantai Pasir Putih
Situbondo, sesuai dengan namanya maka pantai ini terletak di Kabupaten
situbondo Jatim. Sangatlah dikenal sebagai salah satu andalan wisata di
kabupaten tersebut dan juga di provinsi jatim karena hamparan pasirnya
yang putih bersih. Disamping itu pantai ini mempunyai morfologi yang
bisa dibilang unik. Dengan topografinya yang melengkung menghadap ke
laut dengan latar belakang hutan maka terpandang gugusan panorama yang
sangat indah. Bilamana kita memandang ke arah utara, kita dapat melihat
luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di pinggir pantai, dan bila
kita memandang di belakangnya, rimbunan hutan menyuguhkan kesejukan
tersendiri bagi mata.
Pantai Pasir Putih Situbondo letaknya sangat strategis, yakni di
pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Bagi wisatawan yang ingin
menuju ke Bali dengan perjalanan darat dari Surabaya, atau bagi yang
menuju kearah Gunung Bromo dari Banyuwangi, biasanya menyempatkan diri
untuk mampir beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang
disuguhkan dan juga menikmati eloknya matahari terbenam.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Pasir Putih adalah wisata alam perpaduan view antara wisata
bahari/wisata pantai dan wana wisata/wisata hutan berada persis dibawah
lereng gunung Ringgit. Morfologi Pasir Putih terbilang unik karena
topografi pantainya melengkung menyerupai teluk menghadap ke laut lepas
berbalutkan pepohonan yang rindang membentuk gugusan panorama yang indahCopy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Kali ini saya akan mendeskripsikan beberapa kekurangan dan kelebihan dari wisata pantai pasir putih dan inilah ringkasannya.
Pantai Pasir Putih
Situbondo, sesuai dengan namanya maka pantai ini terletak di Kabupaten
situbondo Jatim. Sangatlah dikenal sebagai salah satu andalan wisata di
kabupaten tersebut dan juga di provinsi jatim karena hamparan pasirnya
yang putih bersih. Disamping itu pantai ini mempunyai morfologi yang
bisa dibilang unik. Dengan topografinya yang melengkung menghadap ke
laut dengan latar belakang hutan maka terpandang gugusan panorama yang
sangat indah. Bilamana kita memandang ke arah utara, kita dapat melihat
luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di pinggir pantai, dan bila
kita memandang di belakangnya, rimbunan hutan menyuguhkan kesejukan
tersendiri bagi mata.
Pantai Pasir Putih Situbondo letaknya sangat strategis, yakni di
pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Bagi wisatawan yang ingin
menuju ke Bali dengan perjalanan darat dari Surabaya, atau bagi yang
menuju kearah Gunung Bromo dari Banyuwangi, biasanya menyempatkan diri
untuk mampir beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang
disuguhkan dan juga menikmati eloknya matahari terbenam.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Pantai Pasir Putih
Situbondo, sesuai dengan namanya maka pantai ini terletak di Kabupaten
situbondo Jatim. Sangatlah dikenal sebagai salah satu andalan wisata di
kabupaten tersebut dan juga di provinsi jatim karena hamparan pasirnya
yang putih bersih. Disamping itu pantai ini mempunyai morfologi yang
bisa dibilang unik. Dengan topografinya yang melengkung menghadap ke
laut dengan latar belakang hutan maka terpandang gugusan panorama yang
sangat indah. Bilamana kita memandang ke arah utara, kita dapat melihat
luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di pinggir pantai, dan bila
kita memandang di belakangnya, rimbunan hutan menyuguhkan kesejukan
tersendiri bagi mata.
Pantai Pasir Putih Situbondo letaknya sangat strategis, yakni di
pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Bagi wisatawan yang ingin
menuju ke Bali dengan perjalanan darat dari Surabaya, atau bagi yang
menuju kearah Gunung Bromo dari Banyuwangi, biasanya menyempatkan diri
untuk mampir beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang
disuguhkan dan juga menikmati eloknya matahari terbenam.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Kekurangan dari Pantai Pasir Putih adalah:
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
- Saat ini kebersihan di Pantai Pasir Putih tidak begitu diperhatikan lagi, tidak seperti dulu yang sangat terjaga kebersihan lingkungan sekitar pantai. Banyak sekali pengunjung yang membuang sampah sembarangan, padahal sudah disediakan tempat sampah di sekitarnya.
- Parkiran yang tersedia di Pantai Pasir Putih untuk memarkirkan kendaraan masih sempit dan tidak teratur.
- Sedikitnya tempat makan disekitar Pantai yang menjajakan makanan khas Lampung, kalu saja ada penjual yang menjual makanan khas Lampung berarti bisa sekaligus memperkenalkan kepada turis tentang makanan tradisional dari Lampung.
- Fasilitas yang disediakan tidak terlalu banyak, sehingga para pengunjung yang datang tidak bisa memilihnya.
- Pantai Pasir Putih sekarang sudah mengalami abrasi yang semakin memprihatinkan.
- Harga tiket yang dijual untuk masuk ke dalam tempat wisata sangat terjangkau.
- Masih banyak pohon rindang di sekitar pantai, bisa digunakan untuk tempat santai-santai atau tempat makan bersama sambil menggelar tikar diatas pasir yang putih.
- Pemandangan di sekitar Pantai yang sangat menakjubkan.
- Transportasi umum untuk menuju ke tempat wisata sangat mudah.
- Disekitar pantai masih banyak warung-warung yang menjual makanan, apabila kita tidak membawa bekal dari rumah.
Kamis, 26 Maret 2015
Pengertian Kepariwisataan (What's Tourism?) + Rekomendasi Tempat Destinasi Indonesia
PENGERTIAN KEPARIWISATAAN
Salah satu istilah yang
digunakan secara “resmi” sebagai nama sebuah kementerian, yaitu
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berwenang menangani
“kebudayaan” dan “kepariwisataan“, tidak menggunakan istilah “kepariwisataan” melainkan “pariwisata“, berbeda halnya dengan istilah “kebudayaan” yang digunakannya secara berdampingan.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.
- WISATA : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu;
- WISATAWAN : adalah orang yang melakukan wisata;
- PARIWISATA : adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah;
- KEPARIWISATAAN : adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.
Diperkenalkannya istilah ‘pariwisata’ dimaksudkan sebagai pengganti ‘tourisme’ (Belanda, Perancis) atau ‘tourism’ (Inggris).
Bila diuraikan menurut
arti-katanya, maka ‘pariwisata’ yang berasalkan kata ‘pari’ dan ‘wisata’
dari bahasa Sansekerta, akan berarti sebagai berikut:
Pari: seringkali, berulangkali/berkali-kali; dapat juga berarti ‘umum’ (bandingkan dengan: sidang ‘paripurna’ = sidang umum & lengkap, – umum masalahnya yang dibicarakan dan lengkap anggotanya yang hadir -, bermakna sama dengan “sidang pleno, plenary session/meeting”);
Pariwisata: beberapa perjalanan yang dilakukan secara bersambung/ berantai dari satu tempat ke tempat berikutnya dan diakhiri di tempat keberangkatan (=tour, perjalanan keliling);
Pari: seringkali, berulangkali/berkali-kali; dapat juga berarti ‘umum’ (bandingkan dengan: sidang ‘paripurna’ = sidang umum & lengkap, – umum masalahnya yang dibicarakan dan lengkap anggotanya yang hadir -, bermakna sama dengan “sidang pleno, plenary session/meeting”);
Pariwisata: beberapa perjalanan yang dilakukan secara bersambung/ berantai dari satu tempat ke tempat berikutnya dan diakhiri di tempat keberangkatan (=tour, perjalanan keliling);
Kata ‘pariwisata’ telah
berhasil dipopulerkan, pada mulanya diperkenalkan oleh Menteri PDPTP
(Perhubungan, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata), pada waktu ituLet.Jen. Djatikusumo, dalam kesempatan Musyawarah Nasional Tourisme II di Tretes, Jawa Timur, pada tahun 1958.
Wisata: pergi (to go, kata kerja), bepergian (to travel, kata kerja); dapat juga berarti ‘perjalanan’ (travel, kata benda);
Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata
adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha,
Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
So, these are some cool destination you might wanna go to
1. Gili Trawangan, Bali.
Gili
Trawangan merupakan pulau terbesar diantara ketiga pulu Gili yang
terletak di sebelah barat Laut Lombok. Pulau Gili Trawangan juga
memiliki ketinggian cukup signifikan jika dibanding dua pulau gili
lainnya. Pulau gili merupakan deretan pulau-pulau sangat kecil, dimana
Gili Trawangan sebagai pulau terbesar hanya memiliki panjang sekitar 3
kilometer dan lebar 2 kilometer. Pulau tersebut dihuni oleh sekitar 800
jiwa, dimana bagian paling padat terdapat pada bagian timur pulau.
Dibanding dua pulau gili lainnya, Gili Trawangan juga memiliki fasilitas
pariwisata yang lebih lengkap dan beragam.
Gili
Trawangan merupakan tempat wisata yang memiliki nuansa pesta lebih
kental dibanding dua pulau gili lain, Gili Meno dan Gili Air. Hampir
sepanjang malam selalu diadakan acara-acara pesta yang dirotasi di
beberapa tempat keramaian. Wilayah perairannya memiliki panorama laut
cukup memukau, sehingga menjadi salah satu tempat dengan potensi wisata
bahari yang cukup besar. Beberapa aktivitas wisata yang cukup populer di
pulau ini adalah scuba diving, snorkeling, bermain kayak, berselancar,
hingga berkuda mengelilingi pulau sambil menikmati suasana yang masih
cukup alami.
Salah
satu keunikan yang menjadi daya tarik di kawasan Gili Trawangan adalah
tidak terdapatnya kendaraan bermotor. Peraturan lokal yang melarang
kendaraan bermotor masuk ke daerah ini tentu menjadi daya tarik
tersendiri bagi para wisatawan. Di era yang serba modern saat ini, masih
ada daerah yang tidak memperbolehkan teknologi transportasi darat ini
masuk. Tak mengherankan, jika kawasan ini masih sangat asri, jauh dari
polusi kendaraan bermotor, sehingga memberikan suasana nyaman dan segar.
Sarana
transportasi darat di kawasan ini masih sangat sederhana, umumnya
masyarakat menggunakan sepeda atau cidomo (kereta kuda sederhana). Jika
wisatawan ingin berkeliling di pulau ini, dapat menggunakan sepeda yang
banyak disewakan oleh warga setempat. Sedangkan sarana transportasi
antar pulau Gili biasanya menggunakan kapal bermotor atau speedboat.
Selain
potensi dan daya tarik di atas, pantai di Pulau Gili Trawangan juga
memiliki kelebihan dibanding pantai-pantai wisata lain, yaitu pengunjung
dapat menikmati sunset dan sunrise tanpa harus berpindah tempat ke
pantai lain. Saat pagi hari, wisatawan dapat menikmati pesona sunrise
yang sangat indah dengan semburat sinarnya yang memancar ke langit.
Sedangkan sore harinya, wisatawan dapat menikmati keindahan sunset yang
sangat agung, dengan kemilau warna emasnya menghiasi langit yang
perlahan mulai gelap. Di tempat wisata ini, wisatawan juga dapat
menonton pertunjukan bela diri tradisional, presean, yang juga dikenal
dengan nama stick fighting. Pertunjukan ini biasanya dapat ditemukan di
sekitar pasar seni Gili Trawangan.
2.Janjang Saribu, Bukittinggi, Sumatra Barat
Wisata Janjang Saribu
(Jenjang Seribu) yang ada di Bukittinggi. Tempat wisata baru di Ngarai
Sianok yang diresmikan di tahun 2013 ini memang mirip sekali dengan
Tembok Raksasa Cina, terdiri dari jalan setapak membelah tebing-tebing
dan pemandangan di sekeliling yang nggak mudah dilupakan karena sangat
menawan hati. Berjalan di Janjang Saribu kamu dapat melihat
monyet-monyet bergelantungan dan melompat dari pohon ke pohon, atau
kicauan beberapa jenis burung yang udah langka. Udaranya masih bersih
dan segar, jauh dari polusi khas kota besar.
Janjang Saribu dulunya
adalah semacam jalan setapak yang dipakai masyarakat sekitar untuk
mengambil air, dan jalannya pun masih berupa jalan tanah tanpa pagar di
kanan kirinya. Sekarang Janjang Saribu udah dilengkapi dengan camping
ground, kolam pancing dan beberapa fasilitas lain untuk menambah
kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati indahnya Gunung Marapi dan
Singgalang di kejauhan.
Daya Tarik Janjang Saribu Bukittinggi
Dalam menikmati kunjungan ke janjang saribu bukittinggi, tentu saja harus mengetahui terlebih dahulu tentang deskripsi dari tempat wisata ini. Wisatawan biasanya ingin merasakan sebuah sensasi berkunjung ke Tembok Besar Cina, namun dengan versi kota Bukittinggi. Bila dilihat secara sepintas, tentu saja ada banyak deretan anak tangga yang cukup panjang pada kawasan atau daerah Koto Gadang. Panjang dari anak tangga tersebut mencapai atau membentang ke kawasan bawah Ngarai Sianok. Jalan anak tangga tersebut diberi nama Janjang Saribu, atau yang berarti tangga seribu. Faktanya, panjang dari janjang ini adalah 780 meter, dari ujung ke ujung. Dulunya tempat ini dianggap remeh oleh orang. Akan tetapi setelah dilakukan renovasi sana-sini, bangunan menjadi terlihat baru dan lebih menarik. Dengan demikian, semakin banyak saja sekarang ini orang yang memanfaatkan kawasan wisata tersebut untuk berlibur, atau bahkan sekedar berfoto-foto saja. Sedangkan untuk lebar dari janjang saribu itu sendiri adalah 2 meter.
Dalam menikmati kunjungan ke janjang saribu bukittinggi, tentu saja harus mengetahui terlebih dahulu tentang deskripsi dari tempat wisata ini. Wisatawan biasanya ingin merasakan sebuah sensasi berkunjung ke Tembok Besar Cina, namun dengan versi kota Bukittinggi. Bila dilihat secara sepintas, tentu saja ada banyak deretan anak tangga yang cukup panjang pada kawasan atau daerah Koto Gadang. Panjang dari anak tangga tersebut mencapai atau membentang ke kawasan bawah Ngarai Sianok. Jalan anak tangga tersebut diberi nama Janjang Saribu, atau yang berarti tangga seribu. Faktanya, panjang dari janjang ini adalah 780 meter, dari ujung ke ujung. Dulunya tempat ini dianggap remeh oleh orang. Akan tetapi setelah dilakukan renovasi sana-sini, bangunan menjadi terlihat baru dan lebih menarik. Dengan demikian, semakin banyak saja sekarang ini orang yang memanfaatkan kawasan wisata tersebut untuk berlibur, atau bahkan sekedar berfoto-foto saja. Sedangkan untuk lebar dari janjang saribu itu sendiri adalah 2 meter.
3.Kota Tua, Jakarta
Kota Tua adalah salah
satu kawasan di Jakarta, tepatnya di Jakarta Kota yang menjadi sebuah
destinasi wisata sejarah terkenal di ibu kota. Wisata Kota Tua ini dapat
memberikan Anda berbagai nilai sejarah serta cerita di balik berdiri
megahnya ibu kota Indonesia ini sekarang. Selain itu, Kota Tua juga bisa
menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dijadikan latar belakang
foto atau hunting foto, karena nuansa vintage atau kuno zaman Belanda
yang ada di sana. Tak heran jika Kota Tua sering dijadikan latar
belakang untuk photo session, pre wedding atau foto buku tahunan.
Kawasan yang berdiri di atas lahan seluas 139 hektar ini didominasi oleh
berbagai bangunan dengan arsitektur Eropa serta China yang berasal dari
abad ke-17 hingga abad ke-20. Di sini, Anda bisa mengagumi karya
arsitektur bangunan-bangunan kolonial Belanda yang masih berdiri gagah
hingga sekarang.
Awal cerita dari Kota
Tua adalah sebuah kawasan yang didirikan oleh kolonial Belanda dengan
nama Kota Batavia. Kota Batavia ini berdiri di atas wilayah yang bernama
Jayakarta (kini Jakarta) dari tahun 1527 hingga tahun 1619. Kota ini
kemudian menjadi pilihan kolonial Belanda karena letaknya dekat dengat
pelabuhan Kesultanan Banten yang diberi nama pelabuhan Sunda Kalapa.
Kota Batavia ini kemudian dijuluki sebagai “The Pearl of East” atau yang
memiliki arti “Mutiara dari Timur” oleh James Cook, seorang penjelajah
terkenal dari Inggris. Ia terpesona dengan pemandangan kota yang
memiliki bangunan serta tata ruang kota yang indah menyerupai kota
Amsterdam di Belanda. Dan memang benar, kolonial Belanda dulunya
merencanakan Kota Batavia sebagai salinan dari ibu kota Belanda
tersebut.
Jayakarta yang kemudian
diserang oleh VOC Belanda pada tahun 1620, diubah namanya menjadi
Batavia dan ditetapkan pusat kotanya di kawasan Kota Tua ini. Dari
sanalah dulunya VOC mengendalikan semua kegiatan, seperti kegiatan
politik, militer serta perdagangan. Areal kota Batavia juga diperluas
mencapai 846 hektar dari 139 hektar. Areal kota Batavia ini mencakup
Pelabuhan Sunda Kelapa, Pecinan Glodok dan Pasar Ikan, namun pusat kota
sendiri masih berada di kawasan bangunan Balaikota dan Museum
Fatahillah. Barulah setelah Jepang datang dan menaklukkan Indonesia,
nama Batavia diubah menjadi kota Jakarta hingga kini.
Di sini, Anda dapat
mempelajari sejarah berdirinya kota Jakarta yang dulunya berangkat dari
Kota Tua yang sekarang. Untuk menikmati wisata Kota Tua, Anda bisa
berjalan kaki mengelilingi kawasannya. Jika lelah, Anda juga bisa
menyewa sepeda tua yang tersedia di sini agar perjalanan wisata menjadi
lebih seru. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan keindahan
bangunan-bangunan berarsitektur tempo dulu di sini, ya! Di kawasan Kota
Tua, terdapat enam lokasi penuh nilai sejarah yang wajib Anda sambangi.
Di antaranya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa, tiga bangunan utama di Kota
Tua yaitu Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Museum Wayang, dan dua
bangunan lain yaitu Museum Mandiri serta Stasiun Kereta Api Kota.
Source:
http://caretourism.wordpress.com/2010/08/12/pengertian-dasar-kepariwisataan/
http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata
http://960606net.blogspot.com/2015/03/pengertian-kepariwisataan.html?m=1
Selasa, 27 Januari 2015
Jumat, 16 Januari 2015
40 Basic Ads Persuasion Techniques
1. Association. This persuasion technique tries to link a product, service, or idea with something
already liked or desired by the target audience, such as fun, pleasure, beauty, security, intimacy,
success, wealth, etc. The media message doesn’t make explicit claims that you’ll get these things;
the association is implied. Association can be a very powerful technique. A good ad can create a
strong emotional response and then associate that feeling with a brand (family = Coke, victory =
Nike). This process is known as emotional transfer. Several of the persuasion techniques below, like
Beautiful people, Warm & fuzzy, Symbols and Nostalgia, are specific types of association.
2. Bandwagon. Many ads show lots of people using the product, implying that "everyone is doing it" (or at least, "all the cool people are doing it"). No one likes to be left out or left behind, and these ads urge us to "jump on the bandwagon.” Politicians use the same technique when they say, "The American people want..." How do they know?
3. Beautiful people. Beautiful people uses good-looking models (who may also be celebrities) to
attract our attention. This technique is extremely common in ads, which may also imply (but never
promise!) that we’ll look like the models if we use the product.
6. Experts. (A type of Testimonial.) We rely on experts to advise us about things that we don’t
know ourselves. Scientists, doctors, professors and other professionals often appear in ads and
advocacy messages, lending their credibility to the product, service, or idea being sold. Sometimes,
“plain folks” can also be experts, as when a mother endorses a brand of baby powder or a
construction worker endorses a treatment for sore muscles.
7. Explicit claims. Something is "explicit" if it is directly, fully, and/or clearly expressed or
demonstrated. For example, some ads state the price of a product, the main ingredients, where it
was made, or the number of items in the package – these are explicit claims. So are specific,
measurable promises about quality, effectiveness, or reliability, like “Works in only five minutes!”
Explicit claims can be proven true or false through close examination or testing, and if they’re false,
the advertiser can get in trouble. It can be surprising to learn how few ads make explicit claims. Most
of them try to persuade us in ways that cannot be proved or disproved.
2. Bandwagon. Many ads show lots of people using the product, implying that "everyone is doing it" (or at least, "all the cool people are doing it"). No one likes to be left out or left behind, and these ads urge us to "jump on the bandwagon.” Politicians use the same technique when they say, "The American people want..." How do they know?
ex:
Whatsapp commercial
4. Bribery. This technique tries to persuade us to buy a product by promising to give us something
else, like a discount, a rebate, a coupon, or a "free gift.” Sales, special offers, contests, and
sweepstakes are all forms of bribery. Unfortunately, we don’t really get something for free -- part of
the sales price covers the cost of the bribe.
5. Celebrities. (A type of Testimonial – the opposite of Plain folks.) We tend to pay attention to
famous people. That’s why they’re famous! Ads often use celebrities to grab our attention. By
appearing in an ad, celebrities implicitly endorse a product; sometimes the endorsement is explicit.
Many people know that companies pay celebrities a lot of money to appear in their ads (Nike’s huge
contracts with leading athletes, for example, are well known) but this type of testimonial still seems to
be effective.

8. Fear. This is the opposite of the Association technique. It uses something disliked or feared by
the intended audience (like bad breath, failure, high taxes or terrorism) to promote a "solution.” Ads
use fear to sell us products that claim to prevent or fix the problem. Politicians and advocacy groups
stoke our fears to get elected or to gain support.
9. Humor. Many ads use humor because it grabs our attention and it’s a powerful persuasion technique. When we laugh, we feel good. Advertisers make us laugh and then show us their product or logo because they’re trying to connect that good feeling to their product. They hope that when we see their product in a store, we’ll subtly re-experience that good feeling and select their product. Advocacy messages (and news) rarely use humor because it can undermine their credibility; an exception is political satire.
10. Intensity. The language of ads is full of intensifiers, including superlatives (greatest, best, most, fastest, lowest prices), comparatives (more, better than, improved, increased, fewer calories), hyperbole (amazing, incredible, forever), exaggeration, and many other ways to hype the product.
11. Maybe. Unproven, exaggerated or outrageous claims are commonly preceded by "weasel words" such as may, might, can, could, some, many, often, virtually, as many as, or up to. Watch for these words if an offer seems too good to be true. Commonly, the Intensity and Maybe techniques are used together, making the whole thing meaningless.
12. Plain folks. (A type of Testimonial – the opposite of Celebrities.) This technique works because we may believe a "regular person" more than an intellectual or a highly-paid celebrity. It’s often used to sell everyday products like laundry detergent because we can more easily see ourselves using the product, too. The Plain folks technique strengthens the down-home, "authentic" image of products like pickup trucks and politicians. Unfortunately, most of the "plain folks" in ads are actually paid actors carefully selected because they look like "regular people.”
13. Repetition. Advertisers use repetition in two ways: Within an ad or advocacy message, words, sounds or images may be repeated to reinforce the main point. And the message itself (a TV commercial, a billboard, a website banner ad) may be displayed many times. Even unpleasant ads and political slogans work if they are repeated enough to pound their message into our minds.
14. Testimonials. Media messages often show people testifying about the value or quality of a product, or endorsing an idea. They can be experts, celebrities, or plain folks. We tend to believe them because they appear to be a neutral third party (a pop star, for example, not the lipstick maker, or a community member instead of the politician running for office.) This technique works best when it seems like the person “testifying” is doing so because they genuinely like the product or agree with the idea. Some testimonials may be less effective when we recognize that the person is getting paid to endorse the product.
15. Warm & fuzzy. This technique uses sentimental images (especially of families, kids and animals) to stimulate feelings of pleasure, comfort, and delight. It may also include the use of soothing music, pleasant voices, and evocative words like "cozy" or "cuddly.” The Warm & fuzzy
9. Humor. Many ads use humor because it grabs our attention and it’s a powerful persuasion technique. When we laugh, we feel good. Advertisers make us laugh and then show us their product or logo because they’re trying to connect that good feeling to their product. They hope that when we see their product in a store, we’ll subtly re-experience that good feeling and select their product. Advocacy messages (and news) rarely use humor because it can undermine their credibility; an exception is political satire.
10. Intensity. The language of ads is full of intensifiers, including superlatives (greatest, best, most, fastest, lowest prices), comparatives (more, better than, improved, increased, fewer calories), hyperbole (amazing, incredible, forever), exaggeration, and many other ways to hype the product.
11. Maybe. Unproven, exaggerated or outrageous claims are commonly preceded by "weasel words" such as may, might, can, could, some, many, often, virtually, as many as, or up to. Watch for these words if an offer seems too good to be true. Commonly, the Intensity and Maybe techniques are used together, making the whole thing meaningless.
12. Plain folks. (A type of Testimonial – the opposite of Celebrities.) This technique works because we may believe a "regular person" more than an intellectual or a highly-paid celebrity. It’s often used to sell everyday products like laundry detergent because we can more easily see ourselves using the product, too. The Plain folks technique strengthens the down-home, "authentic" image of products like pickup trucks and politicians. Unfortunately, most of the "plain folks" in ads are actually paid actors carefully selected because they look like "regular people.”

13. Repetition. Advertisers use repetition in two ways: Within an ad or advocacy message, words, sounds or images may be repeated to reinforce the main point. And the message itself (a TV commercial, a billboard, a website banner ad) may be displayed many times. Even unpleasant ads and political slogans work if they are repeated enough to pound their message into our minds.
14. Testimonials. Media messages often show people testifying about the value or quality of a product, or endorsing an idea. They can be experts, celebrities, or plain folks. We tend to believe them because they appear to be a neutral third party (a pop star, for example, not the lipstick maker, or a community member instead of the politician running for office.) This technique works best when it seems like the person “testifying” is doing so because they genuinely like the product or agree with the idea. Some testimonials may be less effective when we recognize that the person is getting paid to endorse the product.
15. Warm & fuzzy. This technique uses sentimental images (especially of families, kids and animals) to stimulate feelings of pleasure, comfort, and delight. It may also include the use of soothing music, pleasant voices, and evocative words like "cozy" or "cuddly.” The Warm & fuzzy
16. The Big Lie. According to Adolf Hitler, one of the 20th century’s most dangerous
propagandists, people are more suspicious of a small lie than a big one. The Big Lie is more than
exaggeration or hype; it’s telling a complete falsehood with such confidence and charisma that people
believe it. Recognizing The Big Lie requires "thinking outside the box" of conventional wisdom and
asking the questions other people don’t ask.
17. Charisma. Sometimes, persuaders can be effective simply by appearing firm, bold, strong, and confident. This is particularly true in political and advocacy messages. People often follow charismatic leaders even when they disagree with their positions on issues that affect them.
18. Euphemism. While the Glittering generalities and Name-calling techniques arouse audiences with vivid, emotionally suggestive words, Euphemism tries to pacify audiences in order to make an unpleasant reality more palatable. Bland or abstract terms are used instead of clearer, more graphic words. Thus, we hear about corporate "downsizing" instead of "layoffs," or "enhanced interrogation techniques" instead of "torture.”
19. Extrapolation. Persuaders sometimes draw huge conclusions on the basis of a few small facts. Extrapolation works by ignoring complexity. It’s most persuasive when it predicts something we hope can or will be true.
20. Flattery. Persuaders love to flatter us. Politicians and advertisers sometimes speak directly to us: "You know a good deal when you see one." "You expect quality." "You work hard for a living." "You deserve it." Sometimes ads flatter us by showing people doing stupid things, so that we’ll feel smarter or superior. Flattery works because we like to be praised and we tend to believe people we like. (We’re sure that someone as brilliant as you will easily understand this technique!)
17. Charisma. Sometimes, persuaders can be effective simply by appearing firm, bold, strong, and confident. This is particularly true in political and advocacy messages. People often follow charismatic leaders even when they disagree with their positions on issues that affect them.
18. Euphemism. While the Glittering generalities and Name-calling techniques arouse audiences with vivid, emotionally suggestive words, Euphemism tries to pacify audiences in order to make an unpleasant reality more palatable. Bland or abstract terms are used instead of clearer, more graphic words. Thus, we hear about corporate "downsizing" instead of "layoffs," or "enhanced interrogation techniques" instead of "torture.”
19. Extrapolation. Persuaders sometimes draw huge conclusions on the basis of a few small facts. Extrapolation works by ignoring complexity. It’s most persuasive when it predicts something we hope can or will be true.
20. Flattery. Persuaders love to flatter us. Politicians and advertisers sometimes speak directly to us: "You know a good deal when you see one." "You expect quality." "You work hard for a living." "You deserve it." Sometimes ads flatter us by showing people doing stupid things, so that we’ll feel smarter or superior. Flattery works because we like to be praised and we tend to believe people we like. (We’re sure that someone as brilliant as you will easily understand this technique!)
21. Glittering generalities. This is the use of so-called "virtue words" such as civilization, democracy, freedom, patriotism, motherhood, fatherhood, science, health, beauty, and love. Persuaders use these words in the hope that we will approve and accept their statements without examining the evidence. They hope that few people will ask whether it’s appropriate to invoke these concepts, while even fewer will ask what these concepts really mean.
for example, just like this one
or this one
22. Name-calling. This technique links a person or idea to a negative symbol (liar, creep, gossip,
etc.). It’s the opposite of Glittering generalities. Persuaders use Name-calling to make us reject the
person or the idea on the basis of the negative symbol, instead of looking at the available evidence. A
subtler version of this technique is to use adjectives with negative connotations (extreme, passive,
lazy, pushy, etc.) Ask yourself: Leaving out the name-calling, what are the merits of the idea itself? here's an example
watch this one
23. New. We love new things and new ideas, because we tend to believe they’re better than old
things and old ideas. That’s because the dominant culture in the United States (and many other
countries) places great faith in technology and progress. But sometimes, new products and new ideas
lead to new and more difficult problems. for example:
24. Nostalgia. This is the opposite of the New technique. Many advertisers invoke a time when life was simpler and quality was supposedly better ("like Mom used to make"). Politicians promise to bring back the "good old days" and restore "tradition." But whose traditions are being restored? Who did they benefit, and who did they harm? This technique works because people tend to forget the bad parts of the past, and remember the good.
the newest iPhone 6
24. Nostalgia. This is the opposite of the New technique. Many advertisers invoke a time when life was simpler and quality was supposedly better ("like Mom used to make"). Politicians promise to bring back the "good old days" and restore "tradition." But whose traditions are being restored? Who did they benefit, and who did they harm? This technique works because people tend to forget the bad parts of the past, and remember the good.
this one is from Indonesia, check this one out
25. Rhetorical questions. These are questions designed to get us to agree with the speaker.
They are set up so that the “correct” answer is obvious. ("Do you want to get out of debt?" "Do you
want quick relief from headache pain?" and "Should we leave our nation vulnerable to terrorist
attacks?" are all rhetorical questions.) Rhetorical questions are used to build trust and alignment
before the sales pitch.

26. Scientific evidence. This is a particular application of the Expert technique. It uses the
paraphernalia of science (charts, graphs, statistics, lab coats, etc.) to "prove" something. It often
works because many people trust science and scientists. It’s important to look closely at the
"evidence," however, because it can be misleading.
27. Simple solution. Life is complicated. People are complex. Problems often have many
causes, and they’re not easy to solve. These realities create anxiety for many of us. Persuaders offer
relief by ignoring complexity and proposing a Simple solution. Politicians claim one policy change
(lower taxes, a new law, a government program) will solve big social problems. Advertisers take this
strategy even further, suggesting that a deodorant, a car, or a brand of beer will make you beautiful,
popular and successful.
28. Slippery slope. This technique combines Extrapolation and Fear. Instead of predicting a
positive future, it warns against a negative outcome. It argues against an idea by claiming it’s just the
first step down a “slippery slope” toward something the target audience opposes. ("If we let them ban
smoking in restaurants because it’s unhealthy, eventually they’ll ban fast food, too." This argument
ignores the merits of banning smoking in restaurants.) The Slippery slope technique is commonly
used in political debate, because it’s easy to claim that a small step will lead to a result most people
won’t like, even though small steps can lead in many directions.
29. Symbols. Symbols are words or images that bring to mind some larger concept, usually one
with strong emotional content, such as home, family, nation, religion, gender, or lifestyle. Persuaders
use the power and intensity of symbols to make their case. But symbols can have different meanings
for different people. Hummer SUVs are status symbols for some people, while to others they are
symbols of environmental irresponsibility.
30. Ad hominem. Latin for "against the man," the ad hominem technique responds to an
argument by attacking the opponent instead of addressing the argument itself. It’s also called
"attacking the messenger.” It works on the belief that if there’s something wrong or objectionable
about the messenger, the message must also be wrong.
31. Analogy. An analogy compares one situation with another. A good analogy, where the
situations are reasonably similar, can aid decision-making. A weak analogy may not be persuasive,
unless it uses emotionally-charged images that obscure the illogical or unfair comparison.
32. Card stacking. No one can tell the whole story; we all tell part of the story. Card stacking,
however, deliberately provides a false context to give a misleading impression. It "stacks the deck,"
selecting only favorable evidence to lead the audience to the desired conclusion.
33. Cause vs. Correlation. While understanding true causes and true effects is important,
persuaders can fool us by intentionally confusing correlation with cause. For example: Babies drink
milk. Babies cry. Therefore, drinking milk makes babies cry.
34. Denial. This technique is used to escape responsibility for something that is unpopular or
controversial. It can be either direct or indirect. A politician who says, "I won’t bring up my opponent’s
marital problems," has just brought up the issue without sounding mean.
35. Diversion. This technique diverts our attention from a problem or issue by raising a separate
issue, usually one where the persuader has a better chance of convincing us. Diversion is often used
to hide the part of the story not being told. It is also known as a “red herring.”
36. Group dynamics. We are greatly influenced by what other people think and do. We can get
carried away by the potent atmosphere of live audiences, rallies, or other gatherings. Group dynamics
is a more intense version of the Majority belief and Bandwagon techniques.
37. Majority belief. This technique is similar to the Bandwagon technique. It works on the
assumption that if most people believe something, it must be true. That’s why polls and survey results
are so often used to back up an argument, even though pollsters will admit that responses vary
widely depending on how one asks the question.
38. Scapegoating. Extremely powerful and very common in political speech, Scapegoating
blames a problem on one person, group, race, religion, etc. Some people, for example, claim that
undocumented (“illegal”) immigrants are the main cause of unemployment in the United States, even
though unemployment is a complex problem with many causes. Scapegoating is a particularly
dangerous form of the Simple solution technique.
39. Straw man. This technique builds up an illogical or deliberately damaged idea and presents it
as something that one’s opponent supports or represents. Knocking down the "straw man" is easier
than confronting the opponent directly.
40. Timing. Sometimes a media message is persuasive not because of what it says, but because
of when it’s delivered. This can be as simple as placing ads for flowers and candy just before
Valentine’s Day, or delivering a political speech right after a major news event. Sophisticated ad
campaigns commonly roll out carefully-timed phases to grab our attention, stimulate desire, and
generate a response.
Langganan:
Komentar (Atom)


.jpg)

































